Marwan Suka Marah-marah

Tersangka teroris dan perampokan Bank CIMB Niaga Cabang Pembantu Jalan Aksara,Medan, Marwan alias Wakgeng alias Wangnong, 39, dikenal sebagai sosok yang temperamental. Tak hanya masyarakat sekitar tempat tinggalnya di Jalan Hamparan Perak, Gang Bilal, Dusun VI Pulo Agas, Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang, yang mengecap Marwan seperti itu, istrinya Suwanti juga mengakuinya. ’’Dia (Marwan) memang orangnya terkadang suka marah-marah. Memang orangnya agak temperamental. Tidak sama saya saja, sama warga di sekitar sini juga begitu sifatnya,’’ tuturnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/9). Perempuan yang akrab disapa Wanti ini mengaku tidak mengetahui detail aktivitas suaminya. Setahu dia, Marwan tidak punya pekerjaan tetap dan tidak terlibat dalam organisasi apa pun.

Meskipun mahligai rumah tangga yang mereka bina selama 12 tahun kurang berkecukupan, Wanti tetap tegar dalam menghadapi suaminya yang bekerja serabutan itu. ’’Kerjanya dia ya serabutan, terkadang ke laut menangkap ikan, kadang kerja bangunan, tapi saya tetap mengalah saja kalau dia marahmarah. Malah, pernah bentakbentak saya,’’ tuturnya. Kasus yang menjerat Marwan juga ikut menyeret-nyeret Wanti sampai dibawa ke Polsekta Medan Labuhan untuk dimintai keterangan, sesaat rumah mereka didatangi Tim Densus 88 Mabes Polri pada Sabtu (18/9), sekitar pukul 21.45 WIB. Saat itu dia berada di rumah abang iparnya, Kasman Hadi alias Yono, yang berada sekitar 50 meter dari rumah mereka.

’’Saya lagi enggak di rumah, Bang Kasman saya suruh ke rumah karena ada tamu yang datang. Rupanya enggak lama karena mungkin suami saya enggak ada di rumah, jadi mereka bawa abang ipar saya,’’ paparnya. Namun, pagi tadi (kemarin) langsung dipulangkan karena hanya diperiksa sebagai saksi atas tuduhan kepada Marwan. ’’Saya pun baru pulang tadi pukul 03.00 WIB,’’ ujarnya seusai menandatangani surat dari Polsekta Medan Labuhan. Tim Densus yang menggeledah rumahnya membawa sejumlah barang-barang milik Marwan, yakni satu buah sebo (petutup muka), topi model Taliban, dua pasang kaus kaki hitam dan loreng, rompi hitam, beserta satu poster silsilah al bidayah wan nihayah.“Barang-barang itu yang dibawa polisi Sabtu (18/9) malam setelah penyergapan di rumah,” tuturnya.

Ibu dua anak ini mengakui suaminya pernah merantau ke Aceh Besar sekitar 2005–2006. Meskipun turut serta, dia tidak mengetahui apa yang dikerjakan suaminya di bumi Serambi Makkah itu. Sementara itu, Misni alias Ici, istri Kasman Hadiyono alias Yono, mengaku saat dilakukan penyergapan di rumah Marwan,Tim Densus tidak ada menjelaskan tuduhan yang dialamatkan kepada Kasman. Suaminya dibawa paksa ke Kkantor Polsekta Medan Labuhan. “Mungkin karena enggak ada si Marwan, jadi suami saya kan kebetulan datang ke rumah adiknya karena dilihat ada tamu pakai senjata. Setelah itu, saya enggak ketemu lagi sama suami saya,” ujarnya.

Dia berharap suaminya yang bekerja sebagai tabib di Dusun VI Pulo Agas,Kecamatan Hamparan Perak, ini segera dipulangkan. ”Saya yakin dia tidak terlibat,” tandasnya. Beni, adik Marwan, juga mengakui abangnya memiliki karakter tertutup dan pendiam. Dia juga tidak mengenal teman-teman Marwan sejak menetap di Dusun VI Gang Bilal, Pulo Agas, Kecamatan Hamparan Perak, 10 tahun lalu. ’’Saya pun enggak ada yang kenal sama kawan-kawan dia (Marwan) karena memang dia orangnya tertutup,’’ ungkapnya.

Pasrah dan Ikhlas

Suwanti dan Misni kini hanya bisa memasang sikap pasrah dan ikhlas atas peristiwa yang mendera keluarga mereka, terutama dikait-kaitnya dengan aksi terorisme dan perampokan bank. “Hingga sekarang, kami juga belum tahu dan belum diperbolehkan melihat jenazah mereka jika sudah meninggal atau melihat langsung.Alasannya masih dalam penyelidikan polisi,” ujar Wanti. Terakhir kali dia bertemu suaminya yang merupakan putra kedua dari 12 bersaudara itu pada Jumat (17/9), di halaman depan rumah mereka.

Saat itu Marwan meminta uang untuk suatu keperluan.“ Kami pun sudah pasrah dan ikhlas. Apa pun kabarnya, kami akan syukuri walau sekali pun kabar meninggalnya suami kami. Namun, yang terpenting, kami akan tetap menjalankan fardhu kifayah-nya jika suami kami sudah meninggal dan tolong untuk mengantarkan jenazahnya ke rumah,” pungkas Wanti.

0 komentar:

By: Mbahgendeng