Serangan Bom di Pakistan, 42 Tewas

Serangan Bom di Pakistan, 42 TewasDua pelaku bom bunuh diri kemarin menyerang peziarah makam Sufi Hazrat Syed Ali bin Usman Hajweri di Lahore, Pakistan, menewaskan 42 orang dan melukai 175 orang lainnya. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab dalam serangan di ibu kota budaya tersebut. Namun, dalam tiga tahun terakhir, Pakistan menghadapi gelombang serangan Taliban dan jaringan terkait Al-Qaeda yang menewaskan lebih dari 3.400 orang. Menurut informasi yang diterima Berita Utama bahwa tayangan televisi menunjukkan lokasi makam yang dipenuhi kerabat korban yang menangis dan memukuli dada serta kepala. Orang-orang lainnya membantu petugas ambulans membawa korban luka-luka ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Ledakan pertama terjadi di basement,diikuti ledakan kedua dengan suara yang menulikan telinga. Saya melihat jasad-jasad dan orangorang terluka tergeletak di lantai penuh darah, ujar salah orang yang selamat dari kejadian itu.

Ribuan orang sedang berada di makam yang terletak di pusat Lahore tersebut. Serangan di makam tokoh sufi yang populer disebut Data Ganj Bakhsh itu merupakan kekerasan terbaru paling mematikan di Pakistan. Perdana Menteri (PM) Pakistan Syed Yousuf Raza Gilani mengecam keras serangan tersebut. Teroris tidak mempertimbangkan agama, keyakinan, atau kepercayaan apa pun. Teroris ini tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan tidak peduli dengan nyawa manusia. Aksi brutal mereka perwujudan watak setan mereka, tegasnya. Gilani telah memerintahkan pemerintah provinsi dan badan penegak hukum untuk menyelidiki serangan tersebut dan menangkap pelakunya.

Pengelola makam menjelaskan, ledakan itu terjadi dalam beberapa menit, mengakibatkan kepanikan dan orang-orang berlarian ke berbagai arah. Sedikitnya 2.000 hingga 2.500 orang sedang berada di makam saat dua serangan bom terjadi, ujar perawat makam Mian Mohammad Munir. Sebanyak 42 orang menjadi martir, ujar Mazhar Ahmad, petugas penyelamat senior. Menurut informasi yang diterima Cililin bahwa pejabat tinggi pemerintahan Lahore Khusro Pervez membenarkan jumlah korban tewas itu. Pemerintah Pakistan menyatakan telah menemukan kepala dua pelaku bom bunuh diri. Mereka sedang menyelidiki bagaimana me-reka dapat memasuki kompleks makam meskipun ada penjagaan ketat. Polisi senior di Lahore, Chaudhry Shafiq,membenarkan adanya dua pelaku bom bunuh diri.

Salah satu pelaku bom meledakkan diri di lapangan kompleks makam, sedangkan pelaku kedua meledak- kan diri di basementmakam, kata-nya. Beberapa jam setelah ledakan bom, dua petasan meledak dekat konsulat Amerika dan klub Lahore Press. Ledakan itu menambah ketakutan warga kota. Tidak ada yang terluka dalam dua ledakan bom petasan, papar Mohammad Faisal Rana, polisi senior Lahore. Polisi dan aparat keamanan segera dikerahkan untuk berpatroli di kawasan-kasawan rawan di Lahore, kota berpenduduk 10 juta jiwa. Aparat biasanya meningkatkan keamanan di berbagai masjid menjelang salat Jumat, ujar Rana.

Lahore menjadi sasaran serangan Taliban dan jaringan Al- Qaeda, dengan 265 orang tewas dalam sembilan serangan sejak Maret tahun lalu. Kota itu merupakan tempat kediaman banyak elit dan pejabat tinggi militer serta intelijen Pakistan. Petugas investigasi menjelaskan, Pelaku bom di basement menyalakan rompinya setelah dia ditangkap sekelompok peziarah. Polisi sedang menyelidiki lokasi untuk pemeriksaan forensik. Sejumlah kelompok radikal menganggap sufisme sebagai penyimpangan terhadap Islam. Karena itu sering terjadi serangan terhadap para pengikut tokoh sufi. Pada Mei, kelompok militan melakukan bom bunuh diri di dua ruang berdoa Ahmadi di Lahore dan menewaskan 82 peziarah.

Serangan terburuk di Pakistan terjadi pada 1 Januari saat 101 orang tewas dalam sebuah permainan bola voli di Bannu, dekat daerah suku sepanjang perbatasan Afghanistan yang dianggap Washington sebagai basis Al-Qaeda. Taliban dan jaringan Al-Qaeda dituduh terkait serangan pengeboman dalam tiga tahun terakhir di Pakistan. Menurut informasi yang diterima Berita Utama bahwa publik terus menekan pemerintah Pakistan agar segera menangkap dalang serangan bom dan menciptakan keamanan. Kami selalu berdamai, tapi kesabaran kami tidak boleh diuji lagi. Pemerintah seharusnya tidak hanya melarang nama-nama kelompok teroris tapi juga membatasi aktivitas mereka. Kelompok-kelompok yang dilarang itu bebas beroperasi di negara ini dengan nama baru, ujar Raghib Naeemi, ulama anti- Taliban yang kritis terhadap pemerintah. Ayah Naeemi tewas dalam serangan bom bunuh diri di Lahore tahun lalu. Taliban secara umum membenci kelompok sufi dan melarang muslim mengunjungi makam-makam, praktik yang banyak dilakukan warga Pakistan. Mereka menyerang beberapa lokasi keagamaan yang dianggap suci untuk mengacaukan stabilitas Pakistan.

0 komentar:

By: Mbahgendeng