Imbangi dengan Pelayanan

Imbangi dengan PelayananRencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) telah direalisasikan. Tarik ulur dan pro kontra sempat muncul sebelum kenaikan TDL akhirnya disepakati oleh DPR. Bagaimana reaksi masyarakat? Wacana kenaikan tarif listrik yang sempat berhembus beberapa waktu lalu pada akhirnya menemui kata sepakat. Kenaikan TDL sebagai Solusi Terakhir dan pada hari Selasa tepatnya 15 juni 2010 lalu, Komisi VII DPR dan pemerintah menyepakati salah satu opsi kenaikan TDL, yakni kenaikan bagi golongan pelanggan 1300 Volt Ampere (VA) dan industri.

Masing-masing golongan naik sebesar 18% (untuk golongan 1300– 5500 VA) dan 6–15% (untuk industri). Sementara ini, bagi pelanggan golongan berdaya 450 VA sampai 900 VA, harga berlaku tetap. Jika dibandingkan dengan harapan masyarakat yang terangkum dalam hasil jajak pendapat sumber media massa, keputusan yang akan diterapkan pada awal Juli ini memang belum sepenuhnya memenuhi keinginan mereka. Dalam hasil survei yang diselenggarakan pada 15–17 Juni 2010 lalu, tergambar bahwa sebagian responden justru berharap agar PLN dapat menahan dulu kenaikan TDL. Menurut pengamatan Berita Utama daya beli masyarakatlah yang masih rendah adalah alasan yang melatar belakangi harapan tersebut.

Terlebih menyusul kenaikan listrik, semua sektor barang dan jasa yang dalam produksinya menggunakan tenaga listrik dipastikan akanmenaikkanhargajual. Kondisi ini akan membuat rakyat kian terbebani. Sementara masalah kemiskinan sendiri belum dapat teratasi hingga kini. Data Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat angka kemiskinan pada Maret 2009 lalu berkisar pada 14,15%. Lain halnya pendapat yang dilontarkan oleh 40% responden lainnya. Mereka menilai, jika tak ada jalan lain untuk mengatasi kerugian di tubuh PLN selain menaikkan tarif, setidaknya perusahaan listrik milik negara itu dapat menggratiskan listrik bagi golongan masyarakat miskin (pelanggan 450 VA). Langkah itu dianggap lebih baik meski pada praktiknya nanti pelanggan di luar golongan 450 VA harus menanggung beban berlebih karena membayar di harga keekonomian.

Opsi lain yang dipilih oleh 41% responden lainnya adalah semua golongan sama-sama naik dengan persentase yang sama atau golongan 450 VA mendapat persentase yang lebih kecil.(lihat tabel) Dalam kondisi di mana masih banyak warga yang merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, harapan agar TDL bisa digratiskan mungkin bukanlah sesuatu yang muluk. Meski untuk realisasinya sendiri memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.Ada banyak faktor dan dampak yang harus diperhatikan.

Program listrik gratis bagi warga miskin sendiri merupakan wacana yang pernah dilontarkan oleh Direktur Utama PLN,Dahlan Iskan. Dalam usulannya, subsidi diberikan sepenuhnya kepada golongan pengguna 450 VA, sedangkan golongan lain diberlakukan pembayaran normal.Dengan konsep tersebut, di satu sisi,PLN akan merugi sebesar Rp1,5 triliun,akan tetapi di sisi lain, PLN bisa mendapatkan pemasukan sekitar Rp30 triliun. Mencuatnya usulan ini langsung mengundang reaksi pro dan kontra dari berbagai kalangan, yakni mengenai perlu atau tidaknya serta mungkin atau tidak wacana ini direalisasikan.Kenyataannya, ada beberapa kalangan yang merespons positif ide tersebut, tapi tak sedikit pula yang memberikan tanggapan negatif.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), misalnya menganggap wacana tersebut tidak edukatif. Begitu juga beberapa fraksi di DPR,menganggap wacana ini sulit untuk diterapkan. Di kalangan masyarakat pun, ternyata wacana listrik gratis menimbulkan perdebatan, terutama menyangkut realisasi. Dari hasil jajak pendapat tergambar sebanyak 69% responden meragukan kemampuan PLN untuk menerapkan program listrik gratis. Sementara 24% responden lainnya memberikan apresiasi positif. Hasil rapat antara DPR dan pemerintah di gedung bundar pada 15 Juni 2010 lalu pada akhirnya memang menjawab semua penilaian itu.

Bagaimanapun polemik yang terjadi, keputusan telah diambil. Kenaikan TDL tetap direalisasikan. Sementara ini, wacana untuk menggratiskan listrik kandas di tengah jalan. Terketuknya palu keputusan tentu saja membuahkan harapan dari pelanggan PLN agar perusahaan listrik milik negara tersebut bisa meningkatkan kinerjanya. Kenaikan tarif diharapkan bisa relevan dengan pelayanan yang diberikan PLN kepada para pelanggannya. Dari tahun ke tahun, berbagai keluhan pelayanan listrik memang kerap kali terdengar. Pelayanan pemenuhan pasokan listrik ke masyarakat adalah satu di antaranya.

Pemadaman listrik secara mendadak yang konon disebabkan karena pasokannya yang terbatas bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan. Pemadaman bergilir acap kali berlangsung tanpa pemberitahuan dan terjadi dalam waktu yang lama. Lagi-lagi masyarakat yang harus menanggung beban. Semua kegiatan, baik rumah tangga, bisnis maupun industri terancam terganggu, menurut informasi yang diterima Cililin melalui media massa. Kegiatan di pabrik misalnya. Pemadaman listrik akan membuat berbagai aktivitas pusat industri itu tertunda. Hal itu akan berimbas pada naiknya biaya produksi karena otomatis jam kerja dan upah buruh ikut naik. Dengan kondisi tersebut, tak heran jika para pihak pelanggan kecewa.

Apalagi ketika mendapati tak ada kompensasi dari PLN atas pemadaman sepihak. Tagihan listrik yang harus dibayar pelanggan di akhir bulan tetap tinggi. Keluhan lain dari responden adalah pemadaman di luar jadwal yang telah diumumkan serta inkonsistensi antara informasi yang diberikan mengenai batas waktu pemadaman dengan realisasinya yang terkadang molor hingga waktu yang tidak tentu. Pun, ketidakpuasan pelanggan juga terjadi dalam hal penanganan komplain serta belum meratanya pemberian fasilitas aliran listrik. Berbagai keluhan itu tak pelak memunculkan penilaian negatif dari masyarakat terhadap kinerja PLN.

Dalam hasil jajak pendapat sumber media massa, saat ditanyakan kepada responden, bagaimana tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja PLN, sebanyak 35% responden mengaku tidak puas. Sementara 49% responden menjawab cukup puas dan hanya 13% responden yang menjawab ‘puas’.(lihat tabel) Hasil yang tergambar dalam survei kali ini, tak berbeda jauh dengan hasil survei yang terekam pada tahun 2006 dan 2008 dengan tema dan indikator yang sama. Dalam jajak pendapat yang diselenggarakan pada 28 September 2006 silam, misalnya tercatat ada sebanyak 30% responden yang menjawab tidak puas atas pelayanan yang diberikan PLN.

Lalu jika dibandingkan dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan dua tahun berikutnya, yakni pada 25–28 Februari 2008 lalu, hasilnya ternyata tidak lebih baik. Sebagian besar responden tetap menelan kekecewaan terhadap pelayanan PLN. Menurut pengamatan Berita Utama bahwa tingkat kepuasan yang mencapai 60% di tahun 2006, turun menjadi 24%. Selain itu, hasil jajak pendapat kali ini juga menggambarkan perbandingan lurus antara kekecewaan masyarakat dengan sikap mereka terhadap potensi perbaikan PLN di masa datang.Saat diajukan pertanyaan seputar tingkat keyakinan masyarakat terhadap pengaruh kenaikan TDL pada peningkatan kerja PLN, sebagian besar responden justru bersikap pesimis. Sebanyak 78% responden menilai, kenaikan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja PT.PLN.Dari 400 responden yang terjaring hanya 14% yang menyatakan yakin.

0 komentar:

By: Mbahgendeng