Menkeu Baru Penggerak Pasar

Menkeu Baru Penggerak PasarMenurut informasi yang diterima Dunia dalam Berita bahwa saat ini isu yang mengemuka saat mendiskusikan syarat bagi menteri keuangan atau menkeu baru pengganti Sri Mulyani pada umumnya adalah harus propasar. Pokoknya jangan sampai Presiden SBY memilih menkeu baru yang tidak diterima pasar karena akan mengkhawatirkan bagi keberlanjutan ekonomi Indonesia ke depan.

Begitulah kira-kira pesan yang selalu disampaikan, menurut pengamatan Cililin. Mulailah para analis pasar mencermati apakah pasar bereaksi positif atau negatif saat Presiden SBY memberikan pernyataan bahwa Presiden telah menerima surat pengunduran diri dan mendukung rencana Menkeu Sri Mulyani untuk pindah ke Bank Dunia. Apabila reaksi pasar negatif, maka nonaktifnya Menkeu Sri Mulyani berarti melawan keinginan pasar.

Saat ini analisis tentang pasar dan reaksi pasar pada umumnya hanya sebatas membahas gejolak yang terjadi pada indeks harga saham gabungan, nilai tukar rupiah, dan cadangan devisa. Oleh karenanya, saat IHSG turun tajam hingga 3,81% dan rupiah tertekan hingga Rp9.260 (karena imbas krisis hutang Yunani), banyak orang mengira hal tersebut berkaitan dengan Sri Mulyani yang mengonfirmasi pengunduran dirinya.

Sebagian analis pasar pun segera menyimpulkan bahwa pasar tidak menghendaki langkah tersebut. Bahkan digarisbawahi bahwa reaksi negatif pasar harus dijadikan catatan dan pertimbangan penting bagi Presiden SBY dalam memilih menkeu baru. Apalagi Indonesia diprediksi akan menjadi lokasi investasi portofolio paling menarik di kawasan Asia. Salahkah analisis tersebut? Tentu saja tidak karena memang pada hari tersebut terjadi penurunan IHSG dan nilai tukar rupiah.

Apakah gejolak yang terjadi pada sektor keuangan tersebut merupakan reaksi atas mundurnya Sri Mulyani? Sebagian mungkin iya. Namun, analisis tidak bisa berhenti di situ saja karena harus dipahami bahwa pasar uang memang memiliki karakteristik selalu bergerak dan sangat dinamis. Gain atau keuntungan para pelaku pasar akan diperoleh lewat naik turunnya indikator-indikator yang akan terus bergerak dan bergejolak berdasarkan persepsi para pelakunya.

Saat ini faktor yang akan cukup berpengaruh kuat adalah krisis utang Yunani. Oleh karenanya, tidak dapat dengan mudah menyimpulkan reaksi pasar atas mundurnya Sri Mulyani hanya dengan melihat gejolak pasar keuangan. Misalnya, pada Senin 10 Mei 2010, seminggu setelah pengunduran diri Sri Mulyani, IHSG kembali meningkat tajam hingga 4,055%. Penguatan ini tentu sebagai imbas pasar uang global setelah IMF menyetujui mega-bailout sebesar 750 miliar Euro kepada Yunani.

Apakah kemudian pasar uang yang bergerak positif ini akan disimpulkan bahwa pasar telah mendukung mundurnya Sri Mulyani? Tentu tidak sesederhana itu.Apalagi semakin terbuka pasar uang suatu negara, semakin besar dampak gejolak pasar uang dunia terhadap pasar uang dalam negeri. Dengan volume relatif kecil, pasar uang Indonesia akan sangat mudah terkena dampak dari gejolak yang terjadi di pasar global.

Sayangnya, bagi masyarakat umum,analisis pasar sempit inilah yang telanjur dianggap sebagai analisis yang tepat untuk menggambarkan reaksi dan kondisi ekonomi. Tidak bisa dimungkiri karena mengikuti bergeraknya indikator pasar uang memang mudah dan seolah terukur. Di samping itu,selama delapan tahun terakhir, kampanye keberhasilan pemerintah memang lebih terfokus pada pencapaian targettarget makroekonomi, terutama pencapaian besaran-besaran keuangan.

Selain pasar uang, ilmu ekonomi mengenal dua jenis pasar lain, yakni pasar barang dan jasa serta pasar tenaga kerja. Dua pasar terakhir inilah yang sering disebut dengan pasar sektor riil.Bagi Indonesia, pasar riil jauh lebih penting karena menyangkut denyut ekonomi sebagian besar masyarakat. Sementara jumlah pelaku di pasar uang kurang dari 400.000 pelaku dan lebih dari 60%-nya adalah pemain asing.

Selama lima tahun terakhir, kinerja sektor keuangan sangat kinclong. IHSG melesat dari 1.162,635 pada akhir tahun 2005, saat Sri Mulyani diangkat menjadi menkeu,melesat ke level 2.830,26 April 2010.Peningkatan cadangan devisa bahkan sangat spektakuler karena meningkat lebih dari USD44 miliar dalam waktu lima tahun.Hal yang sama terjadi pada nilai tukar rupiah yang saat ini menyentuh angka Rp9.000 per dolar AS.

Pilihan kebijakan pasar uang Menkeu Sri Mulyani bersifat liberal dan nyaris tanpa pengawasan. Juga kebijakan pajak yang sangat friendlyterhadap pasar uang. Ditambah strategi defisit APBN besar yang dibiayai dengan penerbitan surat berharga negara, akhirnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu surga sekaligus permainan bagi para spekulan global.

Namun, fakta juga bahwa pada saat kinerja sektor keuangan sangat kinclong, sektor riil justru mengalami kinerja yang sebaliknya. Ini terjadi karena membaiknya sektor keuangan lebih banyak ditentukan oleh banjirnya danadana jangka pendek. Kinerja sektor riil yang mengalami kemerosotan ditunjukkan dengan pertumbuhan industri yang tidak meningkat sepesat sektor keuangan.

Bahkan beberapa sektor penting seperti industri pertanian dan manufaktur mengalami pertumbuhan di bawah ratarata pertumbuhan ekonomi nasional. Deindustrialisasi misalnya terjadi karena menurunnya daya saing. Tingkat kompetisi industri yang turun selain karena kebijakan perdagangan dan industri yang tidak jelas dan cenderung sangat liberal didukung oleh pilihanpilihan kebijakan fiskal.Akhirnya pilihan kebijakan ekonomi yang dilakukan kontraproduktif terhadap pengembangan sektor industri.

Salah satunya adalah strategi dan pilihan kebijakan bea masuk (BM) yang tidak proberkembangnya industri nasional. Di sektor automotif, kebijakan komponen tarif bea masuk impor komponen jauh lebih rendah dibandingkan bea masuk impor barang setengah jadi atau bahan baku. Strategi kebijakan ini tentu saja menghilangkan insentif bagi pengembangan industri karena impor barang jadi akan jauh lebih murah.

Strategi yang sama terjadi pula pada industri elektronik, baja, alat tulis, dan lain-lain. Bahkan pada saat Menteri Keuangan Sri Mulyani mendesain stimulus fiskal untuk menyelamatkan ekonomi akibat krisis, paket kebijakan stimulus fiskal yang jumlahnya mencapai Rp73,3 triliun tidak diikuti dengan pilihan kebijakan yang pro terhadap sektor riil.

Stimulus APBN-P 2009 mengalokasikan dana lebih dari 80 persennya dalam bentuk subsidi pajak dan bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP), bukan pada program belanja langsung yang akan mendorong permintaan dalam negeri. Padahal bila rancangan program berupa proyek-proyek padat karya dapat menciptakan lapangan kerja besar-besaran, hal itu akan mendorong permintaan barang dan jasa dalam negeri sehingga mampu menyelamatkan industri.

Bukan itu saja, pilihan untuk memberikan bea masuk ditanggung pemerintah juga tidak memiliki semangat menyelamatkan dan memprioritaskan kepentingan nasional. Bea masuk bahan baku susu misalnya sangat merugikan kepentingan para peternak. Insentif stimulus justru diberikan kepada para importir, bukan untuk mendorong produksi dalam negeri.

Adalah ironis, stimulus fiskal yang dibiayai dengan high cost debt (penerbitan obligasi internasional) dan dana masyarakat (pajak) tidak diprioritaskan untuk pengembangan industri nasional, tetapi menyelamatkan industri negara lain. Banyak pilihan kebijakan fiskal lain yang mengakibatkan daya saing industri tertekan, misalnya dengan kenaikan harga berbagai komoditas penting bagi industri.

Pilihan untuk selalu menempatkan pengurangan subsidi BBM, listrik, dan pupuk sebagai pilihan utama penyelamatan APBN telah mengakibatkan kenaikan harga berbagai produk strategis tersebut yang akhirnya sudah pasti akan berdampak negatif pada daya saing produk-produk industri. Dengan kondisi sebagian besar industri manufaktur Indonesia masih menggunakan mesin-mesin yang boros listrik, kebijakan ini akan berdampak sangat signifikan pada daya saing produk.

Terbukti peran menkeu sangat vital karena akan mempercepat atau memperlambat gerak pasar. Tidak hanya pasar uang,tetapi juga pasar riil. Bahkan dampak yang diakibatkan oleh kesalahan pilihan kebijakan fiskal seorang menkeu pada sektor riil akan jauh lebih besar dan fatal karena tidak mudah, bahkan tidak bisa dikoreksi. Kondisi struktur industri nasional telah sangat rapuh.

Kemerosotan daya saing sektor riil juga sudah terlalu dalam, menurut pngamatan Dunia dalam Berita. Presiden SBY harus mencari menkeu baru yang dapat menggerakkan pasar riil dan mampu mendorong pasar uang agar memberikan manfaat bagi sektor riil.Semoga kali ini Presiden SBY berani untuk melakukan perubahan

0 komentar:

By: Mbahgendeng