Kejahatan Israel

Kejahatan IsraelPerdamaian dunia terusik karena para pasukan Israel kemarin secara membabi buta menyerang kapal pengangkut bantuan kemanusiaan Mavi Marmara hingga menyebabkan 20 aktivis kemanusiaan tewas dan puluhan lagi menderita luka, menurut informasi yang diterima Berita Utama.

Di antara aktivis yang berada dalam kapal yang membawa bantuan untuk warga Palestina, terdapat 12 warga negara Indonesia yang berasal dari relawan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), relawan Sahabat Al- Aqsha-Hidayatullah, dan seorang wartawan. Hingga kemarin belum bisa dipastikan nasib mereka. Tentu kita berdoa semoga mereka dalam kondisi sehat wal afiat. Kita beriak dan berteriak bukan karena ada warga negara Indonesia yang nyawanya terancam. Apa yang dilakukan Israel pantas kita kecam karena sangat melecehkan nilai kemanusiaan dan mengancam perdamaian dunia.

Serangan yang mereka lakukan adalah bentuk perilaku anarkistis sebuah bangsa yang tidak mematuhi aturan internasional. Dari sisi apa pun, serangan itu tidak dapat dibenarkan, apalagi yang menjadi sasaran kebiadaban pasukan negara Zionis itu adalah orang yang sedang melakukan misi kemanusiaan atau melakukan operasi selain perang. Menurut Konvensi Jenewa yang menjadi bagian dari hukum humaniter, menyerang warga sipil yang sedang tidak melakukan penyerangan (nonkombatan) adalah sebuah kejahatan perang. Apalagi korbannya adalah orang yang menjalani misi kemanusiaan. Kedatangan mereka ke Palestina mempunyai tujuan yang jelas, membantu korban perang, baik berupa makanan maupun obat-obatan.

Meskipun Israel sedang berperang, mereka harus tetap tunduk pada hukum humaniter dengan memberi kesempatan kepada tim kemanusiaan seperti Palang Merah Internasional, Bulan Sabit Internasional, atau organisasi kemanusiaan lain untuk melakukan misinya. Jika ternyata negeri Yahudi tersebut menghalangi atau membantai, itu sama halnya negara tersebut melakukan kejahatan perang! Israel tidak dapat mengelak dengan berdalih bahwa penembakan terhadap tim kemanusiaan sebagai sebuah ketidaksengajaan atau upaya preventif untuk mencegah ancaman (pre-emptive strike) karena kedatangan kapal tersebut,walaupun berencana menerobos blokade agar bisa masuk Gaza, sudah diketahui dan sudah banyak dipublikasi membawa bantuan kemanusiaan. Terlebih, saat pasukan Israel masuk dan menyerang relawan dalam kapal, juga tidak mendapat serangan balasan, meurut informasi yang diterima Cililin.

Dengan demikian, tindakan yang ditunjukkan Israel murni wujud pembantaian yang jauh dari norma dan aturan internasional alias kejahatan perang. Jika Israel masih mempunyai peradaban, tentu mereka mengetahui bahwa perang tidak bisa dilakukan secara membabi buta. Israel harus kembali membuka Taurat yang diturunkan untuk bangsa tersebut ribuan tahun lalu agar memahami perang yang suci dan adil atau paling tidak membahas kembali gagasan Cicero, Thomas Aquinas, dan filosof lain yang membahas perihal bagaimana berperang. Intinya, perang masih mempunyai tata krama berupa aturan perang yang absah (jus in bello). Di antaranya, tata krama itu adalah penerapan prinsip diskriminasi, proporsionalitas, kekuatan minimum,dan larangan penyiksaan. Apa yang ditunjukkan Israel jauh dari prinsip tersebut.

Tidak ada pilih-pilih, membabi buta, dan menggunakan kekuatan bersenjata untuk menghadapi warga sipil tak bersenjata. Sekali lagi, Israel mendemonstrasikan pembantaian, dengan korban para relawan kemanusiaan. Dunia internasional tentu tidak bisa membiarkan kebiadaban Israel. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempunyai otoritas menegakkan aturan internasional harus mengambil tindakan tegas dengan menjatuhkan sanksi kepada Israel seperti pernah diterapkan terhadap Irak, Iran, Afghanistan,Korea Utara atau negara-negara lain yang dianggap mengancam perdamaian dunia. Mahkamah Internasional juga harus menyeret pemimpin Israel yang memerintahkan penyerangan untuk diadili sebagai penjahat perang seperti mereka lakukan terhadap mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan mantan Presiden Irak Saddam Husein.

Jika tidak, PBB bukan hanya membuktikan klaim bahwa lembaga internasional tersebut selalu tidak pernah punya taji menghadapi Israel, tetapi juga membiarkan dunia terhadap ancaman anarkisme. Tanggung jawab yang sama juga harus ditunjukkan Amerika Serikat. menurut informasi yang diterima Berita Utama bahwa sikap dan tindakan tegasnya terhadap Israel ditunggu bukan hanya menetralisasi imej bahwa Negeri Paman Sam itu selalu menganakemaskan Israel, tapi sekaligus membuktikan bahwa negeri tersebut pantas menjadi polisi dunia. Kita tunggu reaksinya.

0 komentar:

By: Mbahgendeng