Gugatan Raymond Ancam Kemerdekaan Pers

Gugatan Raymond Ancam Kemerdekaan PersSekedar mengingatkan saja bahwa pada postingan sebelumnya di blog Mbahgendeng membahas tentang Ketua FA Mundur dan Bidding Inggris Terancam, dan kali ini saya akan membahas tentang Gugatan Raymond Ancam Kemerdekaan Pers. Menurut informasi bahwa Gugatan perdata yang dilakukan Raymond Teddy H terhadap tujuh media massa nasional merupakan bentuk tekanan dan ancaman terhadap kemerdekaan pers.

Menurut informasi yang simbah dapatkan bahwa Pernyataan itu dikeluarkan bersama oleh komunitas pers di Jakarta kemarin. Mereka antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Ketua AJI Nezar Patria yang mewakili komunitas pers menyatakan, gugatan perdata Raymond terhadap tujuh media yang meminta uang ganti rugi dengan nilai yang tidak proporsional merupakan ancaman terhadap kemerdekaan pers. Tuntutan ganti rugi yang berlebihan menimbulkan efek ketakutan yang meluas. Di mana pada ujungnya membuat pers melakukan swasensor,” ujarnya di Gedung Dewan Pers, Jakarta, kemarin.

Padahal, lanjut dia, pemberitaan oleh tujuh media yang didasari fakta yang benar dilindungi oleh UU No 40/1999 tentang Pers.Menurut Nezar, tujuh media memberitakan peristiwa faktual penangkapan Raymond berdasarkan konferensi pers oleh Mabes Polri. Karena itu menurut Mbahgendeng, komunitas pers mengingatkan majelis hakim yang menangani perkara tersebut untuk memperhatikan UU Pers, katanya. Yang lebih memprihatinkan, ujar Nezar, proses kriminalisasi terhadap pers juga terjadi di berbagai daerah. Di Pematang Siantar, kontributor Trans7, Andi Wilianto Siahaan kini diadili dengan tuduhan pidana pencemaran nama baik. Sedangkan yang terakhir menimpa Juhry Samanery, kontributor SCTVdi Ambon, sebagai tersangka oleh Polres Ambon.

Peristiwaperistiwa ini menunjukkan ada kecenderungan hukum disalahgunakan oleh sebagian orang untuk menekan pers, katanya. Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo mengungkapkan, Dewan Pers telah bertemu Mahkamah Agung (MA) untuk membicarakan munculnya gugatan-gugatan terhadap pers. Dalam pertemuan tersebut, MA menyatakan komitmennya untuk melindungi kemerdekaan pers. Sementara itu, gugatan perdata tersangka kasus perjudian di Hotel Sultan, Raymond sudah memasuki agenda kesimpulan. Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemarin tidak jadi menghadirkan bukti tambahan dari pihak Raymond. Karena itu, sidang akan dilanjutkan dua pekan yang akan datang dengan agenda kesimpulan.

Sidang akan dilanjutkan pada 31 Mei 2010 pukul 10.00 WIB, kata Ketua Majelis Hakim Sugeng Riyono saat menutup sidang kemarin. Sedianya sidang beragenda pengajuan bukti dari pihak Raymond, tapi urung dilaksanakan. Setelah kami berunding,kami merasa bukti kami sudah cukup, kata kuasa hukum Raymond, Agus Trianto kepada majelis hakim. Karena itu, sidang langsung ditunda dan bukti-bukti yang diajukan ke persidangan dianggap cukup. Kuas hukum Bambang Mulyono mengatakan, pada sidang 31 Mei nanti kedua belah pihak akan mengajukan kesimpulan. Diberitakan sebelumnya, Mabes Polri telah menetapkan Raymond sebagai tersangka kasus perjudian di Hotel Sultan di Kamar Suite 296,Jakarta Pusat. Perjudian tersebut digerebek Mabes Polri pada 24 Oktober 2008.

Namun menurut pemantauan Mbahgendeng bahwa kasus Raymond terkatung-katung hingga dua tahun, sementara tersangka lainnya sudah divonis. Merasa nama baiknya tercemar, Raymond menggugat perdata tujuh media massa nasional atas pemberitaannya. Tujuh media yang digugat itu adalah SI, RCTI, Suara Pembaruan, Kompas, Republika, Warta Kota, dan Detik.com.

0 komentar:

By: Mbahgendeng