Amien Rais dan Regenerasi Kepemimpinan Muhammadiyah

Amien Rais dan Regenerasi Kepemimpinan MuhammadiyahSekedar mengingatkan saja bahwa pada postingan Mbahgendeng sebelumnya membahas tentang Italia Bukan Favorit, Lippi Senang. Dan kali ini simbah akan membahas tentang Amien Rais dan Regenerasi Kepemimpinan Muhammadiyah. Menurut informasi ketika beberapa waktu berselang Prof Dr M Amien Rais (selanjutnya, mohon maaf, ditulis MAR) menyatakan keinginan atau tepatnya kesiapannya untuk kembali memimpin Muhammadiyah dan maju dalam Muktamar Ke-46 Muhammadiyah tanggal 3–8 Juli 2010 yang akan datang,muncullah reaksi beragam di kalangan warga Muhammadiyah.

Ada yang setuju tanpa reserve, ada yang menolak secara kategoris, ada pula yang bersikap wait and see, menunggu dan melihat apa perkembangan selanjutnya yang akan terjadi? Namun, sejatinya, kalau dipikir secara jernih dan otentik, tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Pertama, fakta bahwa ada banyak anggota Tanwir yang mencalonkan dirinya.

Sulit untuk diingkari bahwa MAR adalah kader dan putra terbaik Muhammadiyah. Predikat kader terbaik Muhammadiyah ini diberikan bukan oleh pengamat atau perseorangan, melainkan oleh Sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar (2002) dan Makassar (2004) yang sangat prestisius itu. Walhasil, predikat itu adalah keputusan resmi organisasi yang notabene keputusan tersebut tidak pernah direvisi alias masih tetap berlaku sampai hari ini.

Dalam kenyataannya MAR adalah figur Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang sangat dicintai warga persyarikatan. Cobalah Anda sekali-sekali iseng mengkritik MAR dalam suatu forum Muhammadiyah, pasti akan segera tampil para pembelanya dari kalangan warga Muhammadiyah dengan penuh antusiasme untuk membantah kritik-kritik Anda.

Sebagai orang yang masih sering diundang berceramah di kalangan Muhammadiyah, jujur harus saya katakan bahwa kecintaan banyak warga Muhammadiyah terhadap dirinya sangatlah besar. MAR adalah tokoh politik kader sejati Muhammadiyah yang benar-benar mewakili secara par excellence kultur dan struktur Muhammadiyah setelah almarhum Prof Kasman Singodimedjo atau almarhum Prof Rasyidi.

Keduanya, MAR dan Kasman, bahkan pernah menduduki posisi politik formal yang sama sebagai Ketua MPR pada zamannya: Kasman sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan MAR sebagai Ketua MPR RI. Ketokohannya sebagai lokomotif gerakan reformasi politik adalah sangat fenomenal dan membanggakan warga Muhammadiyah.

Kedua, MAR belum menyelesaikan secara tuntas pekerjaannya dalam dua periode kepemimpinannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah sesuai dengan visinya. Bahkan sangat meyakinkan belum banyak yang dilakukan MAR dalam periode kepemimpinannya di Muhammadiyah karena faktor-faktor eksternal yang menyita waktunya waktu itu. MAR menjadi Ketua PP Muhammadiyah menggantikan almarhum KH Azhar Basyir selama satu tahun saja (1995).

MAR memang kemudian terpilih lagi sebagai Ketua PP Muhammadiyah dalam Muktamar Ke-43 di Aceh (1995), tetapi tahun 1998 MAR mengundurkan diri dari posisi Ketua PP. Dalam sepanjang kepemimpinannya yang pendek itu pun waktunya lebih banyak tersita dalam gerakan reformasi sehingga praktis tidak banyak yang dilakukan untuk mewujudkan visinya tentang Muhammadiyah.

Dalam konteks dan perspektif ini, maka sejatinya keinginan dan kesiapan MAR untuk kembali memimpin Muhammadiyah sangatlah beralasan dan sah saja, yaitu untuk menuntaskan banyak hal yang belum sempat diwujudkannya ketika tokoh Reformasi ini memimpin Muhammadiyah. Dengan memimpin kembali Muhammadiyah, MAR akan memiliki kesempatan untuk mewujudkan visi kepemimpinannya yang dulu terbengkelai karena keterlibatannya dalam politik kekuasaan.

Ini sangat penting dan strategis karena MAR sering menyatakan memiliki konsep dan visi tersendiri terhadap masa depan Muhammadiyah. Walhasil, tidak ada yang salah ketika MAR menyatakan keinginannya untuk kembali berkiprah secara struktural dalam PP Muhammadiyah. Setelah berpikir dan merenung secara mendalam, saya berkesimpulan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan keinginan dan kesiapan MAR itu.

Tidak ada argumen politis maupun teologis yang cukup kuat bagi siapa pun untuk berkeberatan, apalagi menolak keinginan MAR kembali memimpin Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah medan perjuangan yang terbuka. Muhammadiyah sebagai sebuah narasi besar yang harus diwujudkan adalah tempat beramal yang sangat mulia dan menantang. Lantas, apa yang salah ketika ada orang yang ingin berjuang dan beramal di dalam dan melalui Muhammadiyah?

Terus terang, ada rasa sesal di hati saya mengapa beberapa waktu yang lalu saya harus menjawab pertanyaan- pertanyaan para jurnalis dengan nada menolak iktikad baik dan mulia dari seorang MAR untuk kembali memimpin Muhammadiyah. Penyesalan saya semakin mendalam ketika belakangan MAR menyatakan mengurungkan niatnya untuk kembali ke Muhammadiyah.

Sungguh, saya sangat khawatir kalau-kalau pembatalan tersebut ada kaitannya dengan penolakan yang bertubi-tubi dari kalangan muda Muhammdiyah yang antara lain saya juga ikut menyuarakannya itu. Namun, baiklah, hal itu kita tinggalkan saja. Meski nasi belum menjadi bubur, MAR sudah menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan.

Ada hikmah yang sangat besar yang dapat diambil dari kasus penolakan yang sungguh sungguh tidak perlu itu, yaitu bahwa pernyataan kesiapan MAR memimpin kembali Muhammadiyah telah berhasil memicu wacana pentingnya regenerasi kepemimpinan dan atau kaderisasi dalam tubuh Muhammadiyah yang nyatanya selama ini hanya dibiarkan saja berjalan pada kemauan sejarah belaka.

Satu-satunya argumen yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral atas penolakan kembalinya MAR memang hanya satu saja, itu pun agak sumir, yaitu soal regenerasi kepemimpinan dalam Muhammadiyah. Nyatanya diskursus atau wacana tentang kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan dalam organisasi yang telah berusia satu abad ini memang baru muncul ke permukaan akhir-akhir ini ka-rena dipicu oleh isu comeback- nya MAR: bahwa kembalinya MAR akan memotong proses regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan Muhammadiyah.

Sebuah kekhawatiran yang sedikit masuk akal. Sungguh besar volume aktivitas Muhammadiyah untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan sebagai cetak biru sosial sebagaimana yang dibayangkan oleh pendirinya sebagai pandangan hidup (world view) Muhammadiyah. Sangat meyakinkan ini semuanya paralel dengan harapan rakyat, bangsa, dan negara.

Sungguh Muhammadiyah merupakan narasi besar dari sebuah gerakan raksasa yang memprasyaratkan sebuah kepemimpinan yang kuat dan berdedikasi, sebuah kepemimpinan yang harus senantiasa risau akan nasib dan masa depan umat, bangsa, dan negaranya. Bukan hanya nasib dan masa depan Muhammadiyah sendiri!

Maka Muhammadiyah tidak boleh mengalami kemiskinan kader-kader pemimpin yang akan mengawal dengan setia pelaksanaan cetak biru (blue print) pandangan dunia (world view)Muhammadiyah di ketiga arena persyarikatan, keumatan, dan kebangsaan yang saling terkait satu sama lain itu.

Adalah sebuah kerugian besar yang serius jika sampai terjadi kelemahan kepemimpinan dalam Muhammadiyah hanya karena lemahnya regenerasi dan kaderisasi. Kelemahan tersebut tidak boleh terjadi sekejap pun dalam sebuah gerakan Islam yang sangat berjiwa nasionalistik dan patriotik seperti Muhammadiyah!

Sebuah gerakan yang melahirkan bangsa dan negara tidak boleh sampai ditinggalkan oleh penyelenggara negara sehingga tidak lagi berada dalam arus utama pergerakan politik kenegaraan atau apalagi penyelenggaraan negara, baik formal maupun informal. Untunglah sampai hari ini kita sebagai bangsa masih bisa menyaksikan dengan penuh bangga bahwa peranperan secara informal di arena kebangsaan masih dilakukan oleh tokoh-tokoh seperti Prof Buya Syafii Ma’arif dan Prof Amien Rais (juga beberapa tokoh Muhammadiyah yang lain) yang terus memainkan peran-peran penting dan strategis sebagai guru bangsa bagaikan Begawan Abiyasa dalam epos Mahabharata yang masyhur itu.

Sangat meyakinkan cetak biru pandangan dunia Muhammadiyah memerlukan bukan hanya sebuah strategi kebudayaan yang tepat, melainkan juga kepemimpinan dan kader-kader yang berkualifikasi tinggi yang siap diterjunkan di semua arena kehidupan yang semakin berat dan kompetitif. Persoalan ini mutlak harus disadari oleh pimpinan Muhammadiyah di semua eselon dan jajaran kepemimpinan.

Meurut Mbah Gendeng sangat tidak diharapkan ada kader-kader Muhammadiyah yang bersikap gagap dan madek mangu (disorientasi) menghadapi perubahan yang sangat cepat di hampir seluruh bidang kehidupan. Dalam konteks dan perspektif regenerasi inilah keberatan atas rencana kembalinya Prof Amien Rais memimpin Muhammadiyah muncul ke permukaan. Memang, cuma argumen inilah yang relevan diajukan.Argumen-argumen selain itu adalah tidak adil dan bersifat psiko-politis belaka alias emosional, kalau bukannya malah bullshit! Wallahu a’lam bisshowab.

0 komentar:

By: Mbahgendeng