Pro-Kontra Kenaikan Tarif Kereta Api

Pro-Kontra Kenaikan Tarif Kereta ApiPresiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan postingan sebelumnya pada blog Mbahgendeng, dan kali ini simbah akan membahas tentang Pro-Kontra Tarif Kereta Api. Menurut informasi yang simbah dapatkan melalui pusaka kepercayaannya yaitu cermin ajaib warisan mbah google bahwa Usulan kenaikan tarif kereta api kelas ekonomi belakangan ini mencuat. Bagaimana masyarakat menanggapi masalah tersebut?

Jika dilakukan perbandingan dengan moda transportasi lainnya, kereta api memang menjadi sarana angkutan massal yang paling murah. Tiket kereta api listrik (KRL) kelas ekonomi rute Depok–Kota, misalnya konsumen cukup merogoh kocek sebesar Rp1.500.

Bila ingin mendapat sedikit kenyaman, warga bisa menumpang KRL kelas ekonomi AC. Hanya dengan Rp5.500, penumpang bisa menikmati perjalanan. Kelebihan inilah yang membuat konsumen berbondong-bondong beralih memanfaatkan jasa KRL. Apalagi didukung dengan kecepatan yang tinggi dan daya jangkau yang luas,pesona si ular besi ini semakin mentereng saja seperti tulisan NegeriAds.com Solusi Berpromosi Paling Mantap pada postingan mbahgendeng sebelumnya.Tak heran, jika jumlah penggunanya pun semakin hari semakin meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan,sepanjang Mei 2009, jumlah penumpang kereta api di Indonesia naik 6,25% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni menjadi 17,82 juta orang.

Namun, belakangan ini masyarakat pengguna kereta api kelas ekonomi merasa terusik dengan rencana kenaikan tarif yang digagas PT Kereta Api (KA). Terlebih, besaran kenaikan tarif diprediksi bisa mencapai 50% dan dilakukan secara bertahap dalam empat semester. PT KA berdalih kenaikan tersebut dilakukan mengingat tarif kereta api ekonomi selama ini tidak mengalami perubahan sejak delapan tahun lalu. Ditambah lagi, jika rencana PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 % pada Juli 2010 benar-benar terealisasi, maka kenaikan tarif tersebut dinilai PT KA sebagai sesuatu kebijakan yang harus dilakukan, pada menyelenggarakan jajak pendapat untuk melihat bagaimana respons masyarakat atas usulan tersebut.

Hasilnya, dari 400 responden yang dilibatkan mayoritas responden atau sebanyak 68% menyatakan PT KA belum perlu menaikkan tarif kereta api kelas ekonomi. (lihat tabel) Ada dua faktor yang melatar belakangi penolakan para responden terhadap usulan tersebut. Pertama, terkait dengan kondisi rakyat yang masih terbebani dengan adanya kenaikan serentak berbagai barang-barang kebutuhan pokok. Sementara, di sisi lain tak ada penyesuaian pendapatan penghasilan bagi masyarakat. Faktor kedua adalah terkait dengan pelayanan yang telah diberikan kepada PT KA. Dalam hasil jajak pendapat tergambar bahwa sebanyak 60% responden menyatakan tidak setuju jika dikatakan tarif kereta api kelas ekonomi saat ini sudah sebanding dengan pelayanan yang diberikan.

Dengan kata lain, pelayanan PT KA selama ini, terutama pada kereta api kelas ekonomi masih belum maksimal. Secara spesifik, hasil jajak pendapat yang dilakukan sejak 12–15 April ini juga memperlihatkan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja PT KA selama ini. Sebanyak 40% responden mengaku tidak puas dengan pelayanan dari PT KA. Hanya 8% responden yang menjawab puas dan 35% menjawab cukup puas. Penilaian yang tergambar kali ini tak berbeda dengan hasil jajak pendapat dengan indikator yang sama pada 1–4 September 2008 lalu. Dari total jumlah responden sebanyak 400 orang, mayoritas responden menilai PT KA belum memberikan pelayanan yang memuaskan.

Menariknya, dukungan maupun penolakan terhadap adanya kenaikan tarif KA dibarengi pula dengan sikap pesimistis sebagian responden terhadap kemampuan PT KA untuk mendongkrak kinerjanya pascakenaikan tarif. Dalam hasil jajak pendapat tergambar mayoritas responden atau sebanyak 62% responden tidak yakin, kenaikan tarif akan diimbangi dengan membaiknya kualitas pelayanan. Hanya 28% responden yang memberikan penilaian positif.

Kondisi kereta api Indonesia yangdianggapbelummemadaioleh sebagian besar responden memunculkan tuntutan atas peningkatan kualitas. Ada beberapa masalah mendesak yang perlu segera dicarikan solusinya. Bagi mayoritas responden atau 23% responden, masalah kenyamanan dan keamanan penumpang adalah masalah utama yang harus mendapat prioritas untuk dibenahi. Terkait dengan masalah tersebut, PT KA diharapkan bisa berfokus pada perbaikan infrastruktur. Hal ini merujuk pada kenyataan bahwa tak sedikit kecelakaan kereta api yang terjadi di Indonesia disebabkan faktor teknis, seperti kurangnya perawatan, pemeliharaan dan peremajaan pada sarana dan prasarana.

Kami tak bisa menutup mata bahwa kondisi sarana pendukung operasional kereta api, seperti rel atau lokomotif memang tidak memadai. Sebagian besar lokomotif yang beroperasi saat ini berumur jauh di atas 20 tahun. Data Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga menyebutkan, masih banyak sarana kereta api lain, seperti gerbong yang berusia di atas 40 tahun. Padahal di negara lain, usia ideal sarana dan prasarana kereta api dibatasi hingga maksimal 20 tahun. Tak hanya menyoroti keselamatan dari sisi penumpang. Bagi nonpenumpang pun, aspek keselamatan yang dijalankan PT KA juga dinilai masih mengecewakan. Hal ini bisa diindikasikan dari banyaknya perlintasan pintu kereta yang tidak dilengkapi dengan sarana yang memadai.

Atas dasar itulah, masyarakat menganggap perlu ada peninjauan ulang terhadap semua elemen sarana dan prasarana, termasuk pengecekan dan penggantian rel, lokomotif dan gerbong yang memang sudah tidak layak digunakan. Selain itu, manajemen PT KA perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Misalnya melalui pendidikan dan pelatihan. Hal yang terpenting, perlu juga diselenggarakan semacam ujian untuk mengetes kecakapan pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibarengi dengan penerapan reward dan punishment.Semua hal tersebut berguna untuk meminimalisasi terjadinya human error. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa banyak kecelakaan yang terjadi akibat faktor kelalaian SDM.

Salah satunya kecelakaan Pakuan Ekspres dengan KRL Ekonomi yang terjadi di Pondok Rumput, Kota Bogor pada Agustus 2009. Diduga kuat penyebab kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa tersebut terjadi karena human error. Tak hanya ditujukan pada pegawai PT KA, kedisiplinan juga perlu ditularkan ke para penumpang sendiri. Sebab, tak jarang kecelakaan terjadi akibat kurangnya kedisiplinan para pengguna kereta. Contoh kasus dari kondisi ini adalah peristiwa kecelakaan kereta api jurusan Rangkasbitung sampai Jakarta pada Maret 2006 lalu. Karena tak kuat menahan beban penumpang yang duduk di atas gerbong, atap gerbong kereta api jurusan Rangkasbitung–Jakarta runtuh. Belasan orang lukaluka akibat insiden yang terjadi di sekitar stasiun Kebayoran Lama tersebut. Mimpi buruk di kereta api terus berlanjut terkait dengan kualitas sarana dan prasarana yang buruk.

Terlebih, fasilitas yang ada di kereta kelas ekonomi sangat memprihatinkan. Kondisi kereta api sudah tidak layak lagi ditumpangi mulai dari atap yang sudah rapuh, bangku-bangku sudah rusak, sampai kaca jendela yang pecah. Kurangnya armada kereta api turut menjadi persoalan yang memprihatinkan. Hal tersebut disampaikan oleh 13% responden. Lonjakan peminat kereta api membuat warga harus rela berdiri di dekat pintu yang membahayakan keselamatan. Kesempatan itu membuat peluang bagi pelaku kriminalitas untuk beraksi sangat besar. Kurangnya armada juga membuat penumpang terpaksa berjejalan di dalam kereta api. Ironisnya, dalam situasi seperti itu, gelombang penumpang lain tetap dibiarkan masuk hingga akhirnya mereka berdesak-desakan di dalam.

Bahkan, sering dijumpai para penumpang yang duduk di atas gerbong kereta api. Selain persoalan di atas, persoalan jadwal yang tidak tepat waktu, serta manajemen PT KA yang buruk juga harus segera dibenahi, termasuk di antaranya pelayanan konsumen. Karena tidak jarang ditemui petugas penjualan tiket yang tidak ramah dan tidak mampu memberikan penjelasan atas informasi yang ingin diketahui konsumen. Selain itu, beberapa persoalan yang dinilai respons membutuhkan penanganan secepatnya adalah penataan stasiun yang saat ini masih dinilai kurang layak. Begitu juga, penanganan terhadap maraknya calo tiket. Keluhan tersebut masing-masing disampaikan oleh 2% responden.

0 komentar:

By: Mbahgendeng