Mimpi yang Belum Terwujud

Mimpi yang Belum TerwujudCadangan Devisa dan Rupiah, ya itu merupakan postingan sebelumnya pada blog Mbahgendeng, dan kali ini simbah akan membahas tentang Mimpi yang Belum Terwujud. Saat ini harapan Indonesia untuk mewujudkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sudah lama dilayangkan. Saat ini memang belum terlaksana,tetapi harapan itu terus ada dan semakin mendekati kenyataan.

Nuklir bagi Indonesia bukanlah barang baru. dari hasil pemantauan Mbah Gendeng tentang ide pembangunan dan pengoperasian PLTN pertama kali muncul pada 1956 dalam bentuk pernyataan dalam seminar-seminar yang diselenggarakan di beberapa universitas di Bandung dan Yogyakarta. Namun sebelumnya pada 1954 telah dibentuk komite nasional untuk investigasi radioaktif yang dipicu berbagai percobaan senjata atom yang dilakukan di perairan Pasifik yang dikhawatirkan memberikan dampak buruk bagi Indonesia.

Kemudian menurut Mbah Gendeng, pada 1958 mulailah dibentuk Badan Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA) yang pada 1964 menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (Batan). Seiring perjalanannya, pada 1965 reaktor pertama (TRIGA Mark II) diresmikan di Bandung dengan nama Djuanda. Penelitian tentang nuklir juga terus berkembang. Pada 1966 berdiri pusat riset teknologi nuklir di Jakarta dan pada 1968 muncul Pusat Penelitian Tenaga Atom Gama (Puslit Gama) di Yogyakarta.

Ide pembentukan PLTN mulai direaliasasi pada 1972 bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Batan serta Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL), menurut hasil pemantauan Mbah Gendeng. Rencana ini kemudian ditindaklanjuti dengan seminar di Karangkates, Jawa Timur, pada 1975 oleh Batan dan Departemen PUTL yang salah satu keputusannya adalah akan mengembangkan PLTN di Indonesia. Saat ini walaupun PLTN belum berdiri, sejumlah kegiatan telah dilakukan untuk mewujudkannya.

Sejumlah kegiatan praproyek telah dilaksanakan seperti merancang perencanaan energi nasional. Hal ini diwujudkan dengan adanya dokumen Comprehensive Assessment of Different Energy Sources (CADES) for Electricity Generation in Indonesia. Tahap 1 dan 2 dilaksanakan dengan pemutakhiran data, skenario, dan paket program. Selain itu ada survei infrastruktur nasional dengan telah dilaksanakannya swaevaluasi kesiapan infrastruktur nasional.

Ada juga kegiatan perencanaan partisipasi nasional dengan dilakukan pemutakhiran data dan analisis, termasuk survei tapak dan kajian lingkungan. Pada 1978 setelah melakukan sejumlah penelitian, terpilihlah Semenanjung Muria sebagai lokasi paling ideal untuk membangun PLTN. Tapak PLTN di Lemah Abang, Jepara, menjadi titik yang dipilih menjadi tempat membangun PLTN. Selain bisa memenuhi syarat tempat yang terbebas dari external events, tapak tersebut juga berada di Pulau Jawa yang merupakan pulau dengan kebutuhan listrik terbesar di Indonesia.

Tapak itu diyakini dapat mengakomodasi PLTN sampai 7.000 MWe. Spesifikasi lain yang dinilai, tapak ini sebagian besar areanya (sekitar 500 ha) adalah perkebunan milik PTPN IX. Lokasi tapak berada pada jarak sekitar 73 km dari Semarang (timur laut) dan 24 km dari Jepara. Jalan provinsi (utama) sekitar 8 km dari tapak. Dari segi kepadatan, populasi pada jarak 5 km dari tapak sekitar 473 orang/km2.

Desa terdekat, yaitu Balong,berjarak paling dekat 3 km dari tapak. Sejumlah spesifikasi tersebut dinilai memenuhi berbagai aspek seperti geologi struktur tanah yang berada di wilayah tersebut stabil dan tidak berada di daerah patahan lempengan bumi. Studi rencana tapak PLTN Lemah Abang, Semenanjung Muria, selesai pada 1996. Kemudian pada 2004 rencana pembangunan PLTN Muria diaktifkan kembali. Namun hal itu mendapat tentangan keras dari masyarakat hingga saat ini.

Dari sisi infrastruktur, sejumlah hal telah dilakukan Pemerintah Indonesia. Berdasarkan data Batan, ada sekitar 19 faktor penyiapan fase pertama yang telah selesai dan saat ini tengah dalam pengembangan fase kedua. Di antaranya adalah mengenai manajemen, kerangka kerja pengawasan jaringan listrik, proteksi radiasi keamanan, dan proteksi fisik. Mengacu pada milestone program pengembangan infrastruktur nuklir IAEA, status terkini PLTN adalah telah melawati tonggak 1 yang artinya siap membuat komitmen terhadap program nuklir.

Juga dalam proses menuju ke tonggak 2 yang berarti siap melakukan pelelangan untuk membangun PLTN pertama. Sejumlah pihak melihat proyek PLTN ini sebagai proyek penting. Berbagai penelitian menyajikan hasil yang beragam mengenai efisiensi PLTN, tetapi hampir kesemuanya mencapai kesepakatan bulat bahwa PLTN lebih efisien dibandingkan segala jenis pembangkit listrik lain.

Sekalipun biaya pembangunan awalnya (setup cost) sangat tinggi, karena memerlukan teknologi dan tingkat keamanan yang mumpuni, biaya bahan bakar yang dikeluarkan sangat rendah. Penelitian yang dilakukan International Atomic Energy Agency (IAEA) menunjukkan biaya pembangkitan termasuk paling murah dibandingkan sumber bahan bakar lain. Dari segi biaya, kurang lebih sama dengan batu bara, tetapi dengan efek gas rumah kaca yang jauh lebih rendah, berarti lebih ramah pada lingkungan.

Untuk membangun pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar uranium tidak sama dengan pembangunan pembangkit listrik lain. Ada sejumlah persyaratan yang harus sudah dipenuhi jauh sebelum pembangkit listrik tersebut dibangun seperti studi kelayakan keadaan daerah yang akan menjadi tempat PLTN itu didirikan. Bagaimana faktor lingkungannya, faktor alam, masalah regulasinya sudah disiapkan atau belum, dan lainnya.

Menurut mantan Kepala Batan Soedyartomo Soentono,ada empat syarat yang mesti dipenuhi untuk membangun PLTN. Syarat pertama dari aspek legal karena PLTN itu suatu program besar yang tidak saja dipandang dari sudut ekonomi, teknologi, tapi juga dari masalah sosial politik, masalah keberlanjutannya. Kemudian, syarat kedua, ketersediaan sumber daya dan infrastruktur terkait (phisical facility), infrastruktur yang mendukung, tidak saja SDM dengan jumlah dan kualitas tertentu.

Syarat ketiga, dukungan masyarakat dibutuhkan karena pada dasarnya PLTN ini adalah untuk menyejahterakan rakyat untuk pemenuhan kebutuhan energi. Terakhir adalah stabilitas politik. Dulu orang mengira kalau sudah ada keamanan dan kesejahteraan itu akan stabil dan dinamis, tapi ternyata tidak berkelanjutan. Sebab harus ada langkah-langkah membuat itu berkelanjutan, ujarnya. Saat ini harus diakui Indonesia kalah cepat dengan negara lain, termasuk dari negara-negara tetangga.

Meski begitu menurut ide NegeriAds.com Solusi Berpromosi Paling Mantap, bukan berarti di Indonesia nantinya tidak akan ada PLTN. Apalagi mengingat sejumlah proses panjang menuju PLTN telah lama dilakukan. Secara teknologi, untuk urusan nuklir bagi Indonesia sudah selesai. Kini tinggal bagaimana mengimplementasikan proyek yang disebut-sebut sebagai sumber energi alternatif di masa yang datang menurut mbah gendeng.

0 komentar:

By: Mbahgendeng