Cadangan Devisa dan Rupiah

Cadangan Devisa dan RupiahAnggota DPR merupakan postingan sebelumnya pada blog Mbahgendeng, dan kali ini simbah akan membahas tentang Cadangan Devisa dan Rupiah. BANK Indonesia baru saja mengumumkan cadangan devisa untuk bulan Maret 2010. Cadangan devisa adalah kekayaan luar negeri (foreign assets) yang dimiliki Bank Indonesia yang terdiri atas emas, surat utang Pemerintah AS (treasury bills, notes, bonds) atau negara lain, deposito maupun penempatan pada bank-bank terbaik di banyak negara, serta surat berharga dan kekayaan lain di luar negeri.

Cadangan devisa untuk bulan Maret 2010 adalah sebesar USD71,8 miliar, suatu rekor baru negara ini. Jumlah cadangan devisa tertinggi yang dimiliki Bank Indonesia sebelum krisis moneter tahun 1997 mencapai USD29 miliar. Menurut Mbah Gendeng dengan jumlah saat ini, setiap terjadi kenaikan berarti terpecahnya rekor baru untuk cadangan devisa kita. Bank Indonesia memperoleh cadangan devisa tersebut dari penerimaan migas pemerintah yang dibayarkan oleh kontraktor migas seperti Chevron, MobilOil, Pertamina.

Selain itu, Bank Indonesia juga memperoleh cadangan devisa yang berasal dari pencairan utang luar negeri kita, baik yang berasal dari pemerintah negara lain, Bank Dunia dan ADB maupun penjualan obligasi pemerintah ke luar negeri, menurut hasil pengamatan NegeriAds.com Solusi Berpromosi Paling Mantap. Namun, Bank Indonesia juga merupakan lembaga yang harus membayar seluruh bunga maupun cicilan utang Dari seluruh penerimaan dan pengeluaran devisa Bank Indonesia tersebut, sering terjadi surplus dan tidak jarang pula defisit.

Jika terjadi surplus, cadangan devisa kita akan naik, sedangkan jika terjadi defisit akan terjadi penurunan. Surplus dan defisit aliran devisa ini berbeda dengan surplus dan defisit neraca pembayaran secara keseluruhan karena di sini kita hanya membatasi diri pada aliran dana masuk dan keluar ke Bank Indonesia. Lalu mengapa cadangan devisa kita dewasa ini menguat, bahkan mencapai rekor baru terusmenerus ?

Selain penerimaan dan pengeluaran devisa yang sifatnya konvensional, Bank Indonesia juga melakukan intervensi ke pasar valuta asing di dalam negeri. Pasar valuta asing, yang umumnya dilakukan antarbank tersebut, dalam beberapa waktu terakhir ini sering kelebihan suplaidibandingkan dengan permintaannya.

Keadaan ini terjadi selain karena surplus neraca perdagangan, yaitu jumlah ekspor lebih besar dari jumlah impor, juga karena banyaknya aliran modal yang masuk ke dalam negeri, baik untuk penanaman modal langsung maupun penanaman modal portofolio seperti pembelian SBI dan SUN oleh investor asing, juga obligasi korporasi dan sahamsaham oleh para investor asing.

Pada saat mereka datang untuk membeli surat-surat berharga tersebut, mereka datang membawa dolar AS yang kemudian harus ditukarkan dengan rupiah. Menurut Mbah Gendeng keadaan inilah yang memperbesar suplaidolar ke pasar valuta asing Indonesia. Dalam keadaan aliran dolar AS ke Indonesia lebih banyak dari permintaan untuk penggunaannya ke luar negeri, misalnya untuk pembelian barang impor atau untuk melunasi utang oleh dunia usaha kita, maka rupiah menguat.

Dalam keadaan demikian, untuk beberapa waktu Bank Indonesia sudah bisa memperoleh indikasi kelebihan suplaidevisa di pasar valuta asing. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan melakukan upaya untuk mengurangi tekanan ke atas rupiah dengan membeli valuta asing untuk disimpan dalam buku Bank Indonesia, yaitu untuk menambah cadangan kekayaan luar negeri Bank Indonesia.

Keadaan itulah yang terjadi saat ini.Setiap kali Bank Indonesia, baik secara langsung maupun menggunakan beberapa agen untuk membeli valuta asing dari pasar valas kita, jumlah cadangan devisa kita akan secara bertahap mengalami peningkatan. Untuk menjaga likuiditas rupiah di perbankan agar tidak terjadi kelebihan terlalu besar, Bank Indonesia sering melakukannya dengan menyerap kembali rupiah dari pasar dengan melakukan pengetatan moneter.

Inilah yang sering diistilahkan sebagai sterilized intervention. Dengan demikian, jumlah cadangan devisa meningkat, tetapi jumlah SBI yang dipergunakan untuk sterilisasi tersebut juga meningkat. Karena biaya bunga untuk SBI lebih tinggi dibandingkan penerimaan yang berasal dari cadangan devisa, Bank Indonesia harus menanggung kerugian operasi moneter sebagaimana yang terjadi terakhir ini.

Pemerintah rasanya sangat menyadari peran Bank Indonesia meskipun banyak pihak masih sering mempertanyakan mengapa Bank Indonesia bisa mengalami defisit dalam keuangannya. Dengan adanya intervensi Bank Indonesia tersebut, pergerakan nilai rupiah menjadi lebih terjaga. Namun, Bank Indonesia dan bank sentral mana pun di dunia tidak akan memiliki kemampuan melawan arah pergerakan nilai mata uang mereka.

Yang bisa dilakukan cuma mengurangi fluktuasinya, mengurangi amplitudonya. Itulah sebabnya kita melihat pergerakan rupiah mendekati angka Rp9.000, tetapi masih terus berputar-putar di sekitar itu. Dari catatan Bloomberg, hari Jumat malam pekan lalu, rupiah sudah berada pada level Rp9.029/USD. Sudah semakin mendekati nilai Rp9.000.Sesuai dengan kesimpulan sebelumnya, Bank Indonesia tidak akan bisa melawan arah nilai tukar tersebut.

Maka pergerakan nilai rupiah mendekati dan mungkin menembus Rp 9.000 tersebut semakin pasti akan terjadi jika persepsi para investor asing terus berkembang seperti saat ini. Mungkin inilah yang sering disebut sebagai the problem of success. Masalah yang timbul karena terjadinya suatu kesuksesan. Ini terjadi karena perekonomian Indonesia telah berhasil menghindarkan diri dari krisis global dan dengan sinarnya sekarang ini mampu menarik begitu banyak perhatian para investor global dengan dananya ke Indonesia.

Dengan latar belakang itu, Bank Indonesia masih akan harus menghadapi perkembangan tersebut setiap harinya. Intervensi masih akan terus dilakukan, cadangan devisa masih akan terus mengalami kenaikan, mungkin sampai melampaui USD100 miliar, tetapi rupiah tetap akan mengalami penguatan.

Mbah Gendeng sempat berpikir jika Presiden Barack Obama nanti sungguh-sungguh datang, kekaguman dia melihat Indonesia yang sungguh-sungguh sudah berubah dibandingkan dengan saat dia ada di Indonesia empat puluh tahun yang lalu pasti akan mengakibatkan semakin kentalnya persepsi positif dari investor luar negeri terhadap Indonesia. Komentar Wow, Indonesia hebat ! dari Presiden Obama akan mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik, lengkap dengan the problem of successnya, dan akan membawa Indonesia ke tataran yang lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang.

0 komentar:

By: Mbahgendeng